Reaksi dan Pengaruh Karikatur Nabi Muhammad SAW Terhadap Perkembangan Islam di Denmark

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Agama Islam diajarkan di seluruh dunia melintasi suku, ras, warna kulit, bahasa dan negara. Awal mula kedatangan kaum muslim ke Denmark terjadi pada 1967. Pemerintah Denmark memang mengizinkan import tenaga kerja asing yang dibutuhkan sebagai pekerja kasar dan mayoritas berasal dari Turki, negara-negara eks-Yugoslavia, Maroko dan Pakistan. Jumlah dari imigran itu makin bertambah setelah anggota keluarga yang lain menyusul untuk berimigrasi.1

Muslim di Denmark pada tahun 1971 mencapai 16.000 orang dan meningkat menjadi 35.000 orang pada tahun 1982. Komunitas Muslim Denmark terorganisasi dengan baik dalam uni muslim dengan enam cabang yaitu Copenhagen, Arhus, Vognmandsmarken, Gladsaxe, Ishog, dan Alberslund. Anak Muslim di sekolah negeri mendapat pendidikan Islam dari guru-guru yang dipilih oleh komunitas muslim dan dibayar oleh negara. Pendidikan Islam juga diberikan di masjid-masjid setempat.2 Dari pemeparan di atas maka pemerintah Denmark mengakui bahwa Islam sebagai salah satu agama di sana.

Ketika muslim yang berada di negara yang mayoritasnya non-Muslim, akan mudah sekali mendapatkan “gesekan-gesekan” yang muncul dari berbagai pihak. Salah satu permasalahan yang dihadapi umat Islam di Denmark adalah munculnya karikatur Nabi Muhammad SAW. Salah satu permasalahan yang dihadapi umat Islam di Denmark adalah munculnya karikatur Nabi Muhammad SAW. Karikatur-karikatur itu pada awalnya dimaksudkan untuk sampul buku milik Kare Bluitgen.

Kare Bluitgen adalah seorang pengarang buku, “The Qur’an and the Life of the Prophet Muhammad”. Saat mengerjakan buku tersebut ia kesulitan menemukan ilustrator untuk menggambar Nabi Muhammad SAW di dalam bukunya. Kare Bluitgen bermaksud untuk mengenalkan agama Islam kepada masyarakat Denmark khususnya anak-anak melalui buku yang ditulisnya. Ia ingin mengenalkan Islam dengan cara yang mudah dipahami, yakni dengan gambar. Hal ini tidak menjadi hambatan karena Denmark adalah negara sekuler.3

Permasalahan ini kemudian ditanggapi oleh Flemming Rose selaku editor budaya Jyllands-Posten yang kemudian meminta 40 ilustrator untuk membuat interpretasi mereka sendiri terhadap nabi. Hasilnya didapat 12 karikatur Nabi Muhammad SAW dengan berbagai macam bentuk. Karikatur tersebut kemudian diterbitkan dalam artikel yang berjudul “Muhammeds Ansigt (Face of Muhammad)” yang ditulis oleh Fleming Rose.4

Nabi merupakan panutan bagi umat Islam di dunia. Munculnya karikatur Nabi Muhammad SAW membuat masyarakat Islam di Denmark memberikan respon yang tegas atas hal itu. Nabi Muhammad SAW selama ini hanya diwujudkan dengan lingkaran bersinar dengan tulisan Muhammad (dalam bahasa Arab) kalau kemudian muncul karikatur wajah Nabi secara jelas, hal inilah yang memerlukaan pembahasan yang lebih lanjut, mengapa umat Islam di Denmark memberikan respon yang tegas atas munculnya karikatur Nabi dan juga pengaruh yang ditimbulkannya bagi kedua belah pihak (negara Denmark dan Umat Islam).

  1. Rumusan Masalah

  1. Apa yang melatar belakangi munculnya karikatur Nabi Muhammad SAW ?

  2. Bagaimana reaksi dan pengaruh karikatur Nabi Muhammad SAW terhadap perkembangan Islam di Denmark?

 

  1. Tujuan

  1. Mengetahui hal-hal yang melatar belakangi munculnya karikatur Nabi Muhammad SAW.

  2. Mengetahui reaksi dan pengaruh karikatur Nabi Muhammad SAW terhadap perkembangan Islam di Denmark.

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Latar Belakang Munculnya Karikatur Nabi Muhammad SAW

  1. Sebab-sebab Munculnya Karikatur Nabi Muhammad SAW

Dua belas karikatur Nabi Muhammad SAW, termasuk salah satu yang menggambarkan dia sebagai seorang teroris dengan bom di sorbannya, diterbitkan oleh surat kabar harian Denmark Jyllands-Posten pada 30 September 2005. Empat bulan kemudian, Denmark mengalami krisis dalam skala internasional. Barang ekspor Denmark diboikot, bendera Denmark dibakar dan beberapa kedutaan besar Denmark diserang.5

Sejak awal, alasan menerbitkan karikatur memang tidak jelas. Disatu sisi, alasan membuat dan menerbitkan karikatur Nabi Muhammad SAW adalah untuk sampul buku yang ditulis oleh Kare Bluitgen. Gambar karikatur-karikatur Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk kebebasan berbicara yang ada di Denmark. Di sisi yang lain, karikatur-karikatur tersebut dilihat sebagai sebuah serangan terhadap agama Islam sebagai agama minoritas di denmark. Dengan kata lain, tidak jelas tujuan pembuatan karikatur Nabi Muhammad SAW untuk sampul buku sebagai bentuk kebebasan berbicara atau sebuah serangan terhadap Islam sebagai agama minoritas.

Kebebasan berbicara yang menyinggung agama Islam bertujuan untuk menjelekkan dan menjauhkan Islam. Agama Islam dewasa ini berkembang dengan pesat di Eropa dan dunia. Dewasa ini, semakin banyak warga negara-negara Barat yang mengenal agama Islam dan mereka memutuskan untuk memeluk Islam sebagai agama mereka. Kenyataan ini menimbulkan ketakutan di hati para masyarakat non-muslim karena Islam adalah agama yang mengajarkan perlawanan terhadap penindasan dan kezaliman.6

Perlu ditegaskan bahwa para nabi utusan Allah adalah teladan dan panutan umat Islam. Ajaran-ajaran mereka bersumber dari Tuhan bertujuan untuk membebaskan manusia dari kesesatan dan menunjukkan jalan yang lurus kepada manusia. Para nabi utusan Allah selalu menyeru umat manusia untuk menjauhi kezaliman dan diskriminasi, untuk selalu berbuat kebaikan kepada sesama manusia, dan selalu menjaga perdamaian di muka bumi. Para nabi datang dengan membawa risalah Ilahiah yang sangat berperan dalam memajukan peradaban umat Islam.

Banyak pemikir yang menyatakan, bila manusia-manusia suci utusan Tuhan itu tidak hadir di muka bumi, maka hari ini manusia masih akan berada dalam kegelapan dan kebodohan. Oleh karena itulah, semua nabi harus mendapatkan penghormatan dan pemuliaan dari umat manusia. Tidak boleh ada satu nabi pun yang dihina atau direndahkan, termasuk Nabi terakhir yang diutus Tuhan untuk umat manusia, yaitu Nabi Besar Muhammad SAW.7

Beberapa waktu sebelumnya, Ratu Denmark, Margrethe II, mengumumkan perlawanan terhadap Islam.

Selama beberapa tahun terakhir ini, kita terus ditantang Islam, baik secara lokal maupun global. Ini adalah sebuah tantangan yang harus kita tangani dengan serius. Selama ini kita terlalu lama mengambangkan masalah ini karena kita terlalu toleran dan malas. Kita harus menunjukkan perlawanan kita kepada Islam dan pada saatnya, kita juga harus siap menanggung resiko mendapat sebutan yang tidak mengenakkan, karena kita tidak menunjukkan sikap toleran.8

Pemuatan karikatur yang melecehkan Nabi Muhammad SAW di koran Denmark dan dicetak ulang oleh sejumlah media massa lainnya mengindikasikan (menunjukkan) adanya unsur kebencian, kekhawatiran akan perkembangan Islam di Eropa. Itu tampak dalam sejumlah respon mereka terhadap reaksi keras kaum muslim se-dunia terhadap pemuatan karikatur-karikatur yang melecehkan Nabi Muhammad SAW. Sejak dulu, kaum Kristen Eropa dihantui oleh ketakutan terhadap Islam. Perkembangan Islam di Eropa sangat mengkhawatirkan mereka.

Dalam sebuah situs yang menyiarkan karikatur-karikatur Nabi Muhammad SAW9, mereka menyatakan bahwa hingga kini ditengah perkembangan zaman, Islam masih tetap tidak tersentuh, masih stagnan, baik yang radikal maupun moderat. Islam saat ini membelenggu lebih dari 1 milyar manusia. Hanya muslim reformis yang berusaha mengurangi kesenjangan Islam dan Barat. Dalam kasus karikatur Nabi Muhammad SAW, kaum muslim moderat berdiam diri.

Disebutkan juga dalam situs ini:

di zaman modern, gelombang imigran dari negeri-negeri muslim telah memasuki Eropa. Seluruh negara Eropa telah menjadi sasaran Islamisasi; sebuah proses inkorporasi nilai-nilai Islam dan tradisi kaum muslim ke dalam pandangan hidup kita”).

Inilah bentuk ketakutan mereka terhadap Islam, sehingga mereka berusaha sekuat tenaga untuk memojokkan dan mengusir serta mengucilkan kaum muslim.10

  1. Proses Munculnya Karikatur Nabi Muhammad SAW

Semua bermula ketika Bluitgen ingin mengenalkan Islam kepada anak-anak Denmark. Pria periang berusia pertengahan 40-an tahun ini, adalah salah satu pengarang tersukses Denmark yang banyak menelurkan buku-buku cerita anak. Ia pernah berkelana di sejumlah negara dunia ketiga, sebelum akhirnya memutuskan tinggal di distrikmultietnis Norrebro di Copenhagen.

Saat memulai penggarapan bukunya, ia mengalami kesulitan menemukan ilustrator untuk menggambar ilustrasi di bukunya. Islam melarang penggambaran sang Nabi, namun karena Denmark adalah negara sekular dan Bluitgen memiliki maksud baik, maka proyek itu diputuskannya untuk terus berjalan.

Langkahnya didukung Flemming Rose, editor budaya di koran terbesar di Denmark, Jyllands-Posten. Ia mengumumkan semacam sayembara karikatur tentang Nabi Muhammad SAW. Sebanyak 40 karikartunis Denmark dihubungi, dan 12 diantaranya mengirimkan karyanya. Karya-karya inilah yang kemudian dicetak di edisi akhir pekan koran itu di bulan September 2005.11

Flemming Rose menjelaskan bahwa ide karikatur tersebut datang kepadanya untuk menanggapi insiden beberapa sensor diri di Eropa disebabkan oleh pelebaran ketakutan dan perasaan intimidasi dalam menangani masalah yang berkaitan dengan Islam. Pembunuhan terhadap pembuat film Belanda, Theo van Gogh, di pusat kota amsterdam karena umat Islam merasa tersinggung oleh film van Gogh. Rose merasa terganggu oleh seniman dan penerbit Eropa yang menolak untuk menampilkan seni atau melakukan drama yang dapat mengekspos mereka untuk ancaman serupa.

Kemarahan masyarakat muslim Denmark kemudian muncul. Beberapa pembaca muslim mengirimkan surat kepada surat kabar yang menerbitkan karikatur dan protes damai terorganisir untuk mengekspresikan rasa frustasi mereka.12

  1. Reaksi Muslim Denmark atas Karikatur Nabi Muhammad

Pemerintah Denmark pada awalnya enggan menyelesaikan persoalan tersebut, bahkan menolak untuk menyampaikan permohonan maaf atas nama negaranya pada umat Islam di seluruh dunia. Penolakan itu disampaikan oleh Perdana Menteri Denmark, Andres Fogh Rasmussen dan mengatakan bahwa Jyllands-Posten tidak bermaksud melecehkan umat Islam dengan mempublikasikan karikatur-karikatur Nabi Muhammad SAW. Hal serupa ditulis oleh pihak Jyllands-Posten dalam editorialnya yang ditulis dalam bahasa Denmark dan Arab.

Kami menyesalkan persoalan ini yang mengakibatkan hal semacam ini dan kami ulangi lagi bahwa kami tidak bermaksud menyinggung siapapun dan kami sebagai warga negara Denmark menghormati kebebasan beragama.

Tulis Carsten Juste, pemimpin redaksi Jyllands-Posten dalam editorialnya.13

Gambar ini sebelumnya sempat mendapat teguran dari beberapa negara di Timur Tengah, termasuk pemerintahan Saudi. Namun, pihak pemerintah Denmark menganggapnya sepele dan menanggapinya dengan dingin. Menurut Menteri Luar Negeri Denmark Per Stig Moeller, pemerintah tidak bisa ikut campur dalam masalah ini. Di denmark berlaku sistem kebebasan berbicara dan menganut toleransi terhadap pemeluk agama lain. Bahkan dalam sebuah wawancara televisi, petinggi Denmark itu mengatakan,

Seperti halnya kami menghormati negara-negara Arab, negara Arab juga harus menghormati kami.”14

Dia menolak desakan untuk ikut campur dalam masalah ini. Alasannya, pemerintah tidak punya kekuasaan atas media. Koran Jyllands-Posten sendiri menolak untuk minta maaf atas dimuatnya karikatur tersebut. Alasannya, itu semata-mata masalah kebebasan berekspresi.15

Kontroversi karikatur pada tahun 2005 memiliki konsekuensi langsung untuk populasi muslim di Denmark. Dalam banyak hal, perdebatan dipicu oleh karikatur dan oleh protes yang mendorong muslim untuk mengorganisasi dan menyuarakan pandangan-pandangan dan pendapat-pendapat mereka. Berikut beberapa reaksi, diantaranya:

  1. Reaksi Masyarakat Islam secara Umum.

Muslim Denmark pada Oktober 2005 melakukan protes setelah sebuah media setempat menerbitkan gambar Nabi Muhammad. Harian Jyllands-Posten, dinilai telah menghina Islam dengan menerbitkan gambar kartun Nabi Muhammad. Karena itu, sejumlah muslim mendesak harian beroplah tersebar di Denmark tersebut meminta maaf.

Surat kabar Jyllands-Posten dinilai telah bersikap gegabah dan menginjak-injak nilai moral dan etika Islam dengan tujuan menghina dan mepermalukan perasaan muslim beserta simbol suci dan religius Islam. Ketika Jyllands-Posten pertama kali menerbitkan 12 karikatur kontroversial itu, para pemimpin muslim Denmark pergi ke negeri-negeri muslim dan berusaha dengan keras untuk mendapat dukungan kasus itu.

  1. Reaksi Masyarakat Assertive Muslims

Sebagai bentuk respon secara langsung atas karikatur Nabi Muhammad SAW, masyarakat muslim mendirikan organisasi baru. Organisasi ini bernama Assertive Muslims. Gerakan organisasi ini adalah dengan membuka dialog, menawarkan kepada perusahaan-perusahaan dan orang lain untuk sebuah buku tentang muslim. Dalam buku tentang muslim tersebut dijelaskan tentang informasi secara lebih lanjut tentang Islam.

Hal ini dilakukan dengan maksud untuk memberikan informasi yang sebenar-benarnya tentang Islam dan menghindari adanya informasi yang keliru tentang Islam seperti Islam agama kekerasan dan terorisme.

Meskipun tidak memainkan peran penting dalam kontriversi, Muslim in Dialogue (Muslimer i Dialog) tetap menjadi salah satu organisasi baru yang paling penting mewakili “Assertive Islam” di Denmark. Organisasi ini didirikan pada tahun 2004 sebagai percobaan untuk membentuk sebuah organisasi yang luas dan inklusif untuk muslim sunni.

Organisasi ini dipimpim oleh mantan pemimpin organisasi Minhaj al-Qur’an, sebuah organisasi internasional yang konservatif dan beroriantasi keluarga dengan Pakistan dan kepemimpinan, serta oleh dua imam paling terkenal; Fatih Alev, yang memiliki latar belakang Turki, dan mengkonvi Denmark Abdul Wahab Pedersen, yang keduanya terlibat dalam inisiatif dan organisasi lain juga.

  1. Reaksi masyarakat Democratic Muslims (Demokratiske Muslimer)

Sebuah puncak kontroversi karikatur di tahun 2006, Naser Khader membentuk organisasi Democratic Muslims (Demokratiske Muslimer) dengan tujuan untuk menyatukan umat Islam. Demokratiske Muslimer sangat suksesdi awal berdirinya, karena jumlah dukungan politik dan keuangan dari non-muslim dan waktu pendiriannya. Dengan kira-kira 1.000 anggotanya, organisasi ini dengan cepat tumbuh lebih besar dari organisasi muslim yang lain di Denmark. Meskipu populer, Demokratiske Muslimer tidak terlalu sering mengambil bagian dalam diskusi setelah kontroversi karikatur Nabi Muhammad, dan masyarakat muslim telah mengkritik organisasi ini bahwa tidak mungkin terjadi dedikasi untuk muslim dan demokratis pada waktu yang sama.

Keragaman yang luar biasa mengingat bahwa organisasi muslim di Denmark sangat jarang berhasil saat bekerja sama terutama di garis etnis. Para organisasi-organisasi yang terlibat, tidak dalam arti perwakilan muslim Denamrk pada umumnya, meskipun mereka tidak mewakili meningkatnya kecenderungan ke arah kerjasama lintas etnis. Segera setelah karikatur Nabi Muhammad terbit, Imam Rsed Hlayhel

2 M.Ali Kettani, Minoritas Muslim Di Dunia Dewasa Ini (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2005), hlm.69.

 

Iklan

Posted on Desember 27, 2013, in Studi Pemikiran Islam. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: